Kerdil Di Hadapan Luka Ibuku

Sungguh, kapanpun aku membaca tulisan para perempuan hebat tentang keputusan perceraian yang dengan teramat berat hati diambil setelah banyak pengabaian, dan bahkan dimanfaatkan, aku selalu tertegun.

Apakah begini juga yang dialami ibuku? Apakah kalau ibuku bisa bercerita, terpendam dalam hatinya perasaan yang seperti ini?

Aku sungguh merasa tidak berdaya di hadapan luka ibuku. Bahkan di saat dia bersikeras menyembunyikannya. Aku sungguh berharap, aku bisa merengkuh sakitnya bersama-sama. Tapi, saat ini saja, aku hanya bisa menopang dagu dengan hati yang perih. Memikirkan sakit yang ditanggung ibuku saja rasanya kepala ini mau pecah. Apalah lagi mau ikut memikulnya bersama-sama. Terlalu sok, terlalu gaya. Tapi sungguh aku mau.

Meski rasanya terlalu neko-neko. Karena kuliah dan masalah hati saja sudah tidak bisa kuatasi sendiri. Aku tak sanggup membayangkan beban yang ditahan ibuku sampai saat ini. Lukanya, ditambah anak-anaknya yang kelewat cuek, polos, dan manja ini. 

Adakah dalam waktu dekat aku bisa membuatnya hidup tanpa terbebani angka-angka? Adakah dalam waktu dekat aku bisa melihatnya menjalani hidup dengan ringan, tenang, dan bahagia? Mengerjakan yang dia suka tanpa terpikir hal-hal tidak perlu seperti nilai rupiah di dunia internasional.

Sering tekadku menguat untuk memintanya menuangkan lukanya dalam cangkirku juga. Persis sebelum narasiku melompati pagar mulut, gigiku dengan cepat menggeram menutup disusul bibirku. Aku takut jika ternyata cangkirku sungguh terlampau sempit untuk menampungnya. Jika begitu, semua justru akan berceceran, dan malah semakin merepotkannya yang sudah pasti akan bergerak cepat menangani kekacauan. 

Ibu, jadilah bahagia lewat tanganku ya. Sebentar lagi Bu, dengan izin Tuhan kita berdua.

Komentar