Sama Rata

[20.20, 10/5/2025] Wafa: Aku habis buka ig mu

[20.20, 10/5/2025] Wafa: Ga ada apa-apa

[20.20, 10/5/2025] Wafa: Wkwkwk


Tidak apa-apa, Kawan. 

Aku sungguh baik-baik saja.

Cerita itu perlahan sudah tuntas aku terima dan ikhlaskan.

Sudah tak lagi kutolak meski itu sungguhlah sebuah kebodohan.

Biarlah dia terbungkus kotak berpita, tergeletak di ujung ruangan.

Tak lagi mengganggu, tapi dekorasinya yang mencolok akan terus tertangkap ujung mata sebagai sebuah  pembelajaran.


Meski aku dalam lirih masih suka bertanya-tanya.

Apa menjadi dewasa harus terukir oleh hal-hal memalukan dan bodoh seperti ini?

Seharusnya bisa lebih baik kan jika bersikeras mencoba?

Kenapa aku harus berdosa dulu untuk beriman dengan lebih sempurna?

Aku kan juga ingin dicintai-Nya tanpa harus berlumuran dosa. 

Pasti lebih baik kan.


Sebenarnya, kenapa sih kita semua harus berkompetisi untuk cinta-Nya.

Tak bisakah ya Allah, Engkau cintai kami dengan sama rata? 

Lantas logikaku hadir mengingatkan (dan mungkin juga hati yang menyadari tiada upaya apapun), bahwa Allah adalah Tuan Adil.

Keadilannya berkali lipat lebih baik dari sama rata yang kuimpikan.

Meski aku tak paham, pun sudut hatiku sebenarnya tak bisa sepenuhnya rela, tapi Engkau Tuhanku ya Allah, aturlah sesuai yang Kau senangi.


*aturlah bang, kan abang panitia.

Komentar