'Aashiyah (Aku)

Allah, sudah sejauh apa aku dari barisan para kekasih dan wali-Mu?
Ada di mana aku sekarang? Sejauh apa aku?
Sudah setersesat apa aku ini ya Allah. 
Jika bahkan dunia tak mengenaliku sebagai yang tulus taat dan ikhlas kepadaMu, lalu adakah akhirat akan mengakuiku?
Allah, apa iya aku pantas hidup menghamba padaMu?

Apakah memang aku pantas hidup bernikmat-nikmat di atas bumi yang kepunyaanMu ini? 
Aku jauh dari-Mu ya Allah. 
Aku mencintai banyak hal lebih dari aku mencintai-Mu. 
Apakah aku yang banyak mendua ini berhak Engkau cintai?
Kau hidupkan aku HANYA untuk menghamba pada-Mu.

Lantas, ya Allah, sungguh, diri ini jauh dari kata berhak untuk hidup dalam lingkup kasihMu. 
Sungguh tak pantas untuk Kau beri nafas kehidupan.
Sejak awal, sungguh tak pantas bagiku untuk hidup ya Allah.
Kenapa Engkau beri janin itu kehidupan? 

Janin itu sekarang sudah 21 tahun kehidupannya ya Allah. 
Tapi sungguh setiap detiknya ia berlari menjauhi-Mu.
Janin itu sibuk menutupi dirinya dengan selaput kemunafikan. 
Dia salah mengira bahwa itu sungguh bisa menyelamatkan. 
Janin itu bersimbah air mata sekarang. 
Tapi sungguh ya Alah, Kau jelas lebih tau dari siapapun di alam semesta ini, bahwa kesadarannya yang terisak-isak sekarang ini hanya akan bertahan sementara. 
Satu jam yang akan datang dia akan kembali mengabaikan panggilan hatinya yang meminta untuk mendekatiMu. 

Ya Allah, terima aku sebagai hamba dan kekasih-Mu.
Betapapun tebal kulit kemunafikan membungkusku, ya Allah, tolong genggam jari jemariku yang malas ini untuk secepatnya mengupas lembar demi lembar.
Biarkan aku merasakan nikmatnya hidup dalam nafas taat kepadaMu.
Ya Allah, tolong aku.
Janin yang Kau hembuskan padanya nafas kehidupan, dua dekade yang lalu, lemah dan tersesat, berlari jauh dan lupa jalan menujuMu. 

Sebagaimana Kau yang percaya bahwa aku bisa hidup sesuai mau-Mu, dekap aku ya Allah.
Hati yang kerontang ini sungguh membutuhkanMu. 
MembutuhkanMu untuk selalu percaya bahwa kehidupan ini mampu dijalani bersamaMu.

Allah, sungguh terbatas lisanku untuk menjelaskan betapa tiada daya dan upayaku untuk mencintaiMu, betapa terbatasnya lisanku untuk merayuMu, cintai aku ya Allah.
Aku sungguh tak tahu malu memintaMu, Tuhan sejagat raya, raja diraja, untuk mencintaiku. Mencintai seorang perempuan hina, dengan hati yang keras, serta iman yang kering meretak.
Allahku, cintai aku, karena tiada kekuatanku jika tanpa cintaMu.
Allahku, Kau hidupkan aku sebagai hambaMu, jangan tinggalkan aku. Aku takut. 
Sungguh ya Allah, sudilah Dikau bersabar seluas lautan dengan hambaMu yang amat sangat, bebal, kufur, minim effort, serta kasar dan kurang ajar kepadaMu ini.

Temani aku berjalan menujuMu hingga hembus nafas terakhirku ya Allah.
Sungguh aku mencintaiMu, semampu daya dan upayaku. 
Sungguh aku mencintaiMu meski teramat banyak alpa dan salahku.
Sungguh aku mencintaiMu dengan segala usaha-usahaku yang teramat sangat kerdil itu.
Aku berusaha ya Allah, tolong gapai aku. 

Ya Allah, aku mencintaiMu, selayaknya kekasih terhadap kekasihNya.
Ya Allah, dengan seluruh kehinaan ini, sudilah Kau menatapku. 
Sudilah Kau yang Teragung dan Termulia untuk membasuh pandanganku dengan sayangMu.
Allah, aku mencintaiMu. Sudilah Kau mencintaiku.

Komentar