Rihlah Nasruddin, atau Nasriddin?
Yang mana aja bisa sih kalau dari segi bahasa. Tapi di awal, pertama kali baca judul bukunya, mungkin kamu bakal langsung nerjemahin gini “Perjalanan Nasruddin”. Aku soalnya gitu. Jadi pas mulai baca, aku berekspektasi untuk menemukan lakon utama bernama Nasruddin. Sayangnya sampai udah setengah buku lebih pun, masih ngga nemu tuh yang mana si Nasruddin itu.
Tapi sebelum bahas itu, aku mau ngasih tau kalau buku yang lagi dibahas ini itu novel. Lebih tepatnya novel sejarah. Aku suka banget buku ini. Mulai dari pembukaan aja aku udah naksir. Belum setengah buku, udah falling deep puol.
Novel ini romantically hopeless. Alias romance-nya dikit banget. Rasionya bisa cuma 0,2%. Jenis roman yang sangat esensial dan benar-benar bagian dari hidup. Ngga ada yang menye-menye. Full tentang realitas hidup. Jadi aku semakin suka.
Soalnya aku sering sebel sama konten bagus yang terlalu banyak adegan cinta menye-menye. Jadi banyak yang ngga fokus sama nilai-nilai utama dari karyanya.
Buku ini adalah novel sejarah yang sangat rapi. Sangat sejarah namun enak dibaca. Sarat informasi tapi tetap asyik untuk diikuti. Kisah setiap lakonnya ngga bikin kita bingung, mana bagian sejarah, mana yang karangan penulis.
Kagum banget sama kemampuan penulis menyajikan sebuah peristiwa sejarah paling penting dalam pergolakan dunia belum lama ini. Tentang usaha bangkitnya Daulah Utsmaniyah dan kegagalan mereka yang terwujud dalam kereta Hijaz. Kereta yang dibuat oleh Sultan Abdul Hamid II sebagai pemersatu umat muslim yang saat itu tersebar di tiga benua tertua (Eropa, Afrika, Asia) dalam usaha beliau demi mengokohkan Daulah Utsmaniyah yang fondasinya sudah terlanjur keropos dan mengeroak dimakan ketamakan sultan-sultan sebelumnya.
Pastinya ada alasan kenapa Ayman Huwairah pilih menulis POV peristiwa sejarah ini dari mata orang-orang biasa. Orang-orang kecil yang terimbas. Bukan dari mata para pelaku sejarah yang masih banyak dikenal sampai sekarang. Mereka yang terwujud sebagai para penumpang terakhir kereta Hijaz. Karena itu cerita-cerita dalam buku ini sangat-sangat bisa kita bayangkan, kita rasakan, kita raba, bahkan hidup di hati dan akal kita. Cerita setiap lakonnya terasa sangat menyatu dengan latar sejarah yang dibangun oleh penulis.
Novel ini bukan hanya menyuapi pembacanya dengan informasi-informasi sejarah yang pasti sudah tercatat di banyak buku. Di antara lembaran-lembaran cerita ini, idealisme, mimpi-mimpi tinggi, ditabrakkan berkali-kali dengan realitas yang pahit mencekat. Beberapa memilih realitas, beberapa tak putus asa dengan luhurnya cita. Meski sampai sekarang mimpi mereka belumlah tercapaikan. Meski nyatanya realitas yang dipilih pun tak juga bisa jadi jalan keluar. Cerita ini memang sepedih itu.
Sepanjang 260 halaman, kita diajak berdiskusi seru namun serius. Isi-isi pikiran para lakon sengaja ditabrakkan. Selain gelap dan terang yang sudah pasti berbenturan, di sini kebenaran pun banyak diperseterukan dengan kebenaran-kebenaran lainnya. Kita dibuat bimbang untuk memilih pilihan. Kita adalah rakyat kecil yang terimbas. Kita harus memilih, tapi kendali situasi tidak ada pada tangan kita. Kita benar-benar dibuat bisa merasakan susahnya menentukan sikap di bawah bayang-bayang peperangan. Lalu dibimbing untuk bisa mengambil sikap yang paling tepat sesuai dengan kondisi serta idealisme.
Narasi-narasi di sini membedah dan memetakan logika perang dalam Islam untuk para pembaca, meluruskan mafhum jihad serta tanah air, dan membantu mereka -khususnya yang muslim- untuk melihat bermacam kondisi umat dengan cerita setiap lakon-lakonnya yang khas dan berbeda.
Terus pertanyaannya, siapa itu Nasruddin? Yak, di tengah agak akhir buku, aku ngerasa “hilal-nya udah mulai kelihatan nih”. Dari potongan-potongan pesan Nasruddin di hampir setiap chapter-nya, dari cerita seorang wanita Madinah bernama Fatimah, aku paham bahwa buku ini berjudul Rihlah Nasriddin. Jadi ini bukan perjalanan si Nasruddin, tapi ini perjalanan untuk memenangkan agama (Nasriddin).
Aku mulai bisa menyatukan cerita-cerita setiap lakonnya. Flashback ke cerita-cerita sebelumnya, aku baru sadar bahwa apa pun sikap yang mereka pilih, semuanya sama-sama membawa harapan dan nilai yang sama. Mereka sama-sama berharap kemenangan Islam ada dalam sikap yang mereka pilih. Semua keputusan mereka selalu bersandar pada satu nilai yaitu kemuliaan Islam.
Sholeh si tukang semir sepatu stasiun Astana. Rustum seorang minoritas muslim dari Pristina. Fatimah sebagai sosok di balik punggung gagah prajurit-prajurit di medan perang. Abbas dari keluarga terhormat yang mengabdi meski sebenarnya benci. Terakhir, agak plot-twist, ternyata beneran ada yang namanya Nasruddin. Masinis kereta yang setia. Bukan pada pemerintah manapun yang memberi izin kereta itu jalan, tapi pada umat muslim seutuhnya. Bekerja totalitas, mengabdi dengan ikhlas untuk membantu para muslimin menggenapkan rukun Islamnya, haji.
Jadi, Rihlah Nasruddin, atau Nasriddin?
Untuk ending, honestly dia sad. Semacem yang kayak dah ngga ada harapan lagi. Patah hati umat Islam yang paling dalem lah. Tapi kalau kita mau lebih deep lagi, sebenarnya ending-nya cerita ini kita yang menentukan.
Kalau kita abai, dia akan selamanya jadi sad-ending. Tapi kalau kita mau teruskan ceritanya, kita gulirkan semangat mereka, kita lanjutkan mimpi-mimpi kejayaan Islam yang mereka tuju. Bukan ngga mungkin kisah ini jadi happy-ending. Happy-ending dengan bersatunya realitas dengan idealisme.
BTW, aku beli buku ini udah lama. Tahun 2021. Tapi baru dibaca di akhir tahun 2022, dan secara dramatis aku selesain di salah satu stasiun kereta bawah tanah jalur Syubra-Munib. Nyesel banget waktu tau ternyata sebagus ini. Woylah, kenapa ngga dari dulu bacanya.
Aku beli ini di CIBF (Cairo International Book Fair) 2021 karena tertarik pas lihat cover-nya. Gambarnya kereta Hijaz. Umi pernah bilang “kereta itu (kereta Hijaz) kenangan banget, pengen bisa ke Makkah naik kereta itu”.
Terus karena aku suka banget sama buku ini, rencananya aku mau coba cari buku-buku serupa dari penulis (Ayman Huwairah) atau penerbit (Kotopia) yang sama. Semoga bisa ketemu yang bagus-bagus lagi.
Funfact, di buku ini ngga dijelasin tahun cetak dll. Idk y.

Komentar
Posting Komentar