Ingus yang Tak Kunjung Reda
Hujan lokal hari ini,
Di atas aspal-aspal panas,
Dibarengi klakson-klakson yang memekakkan.
Di atas lereng-lereng pipi,
Mataku menjelma awan mendung.
Hujan tumpah ruah,
berusaha mendinginkan bara emosi siang hari,
dan kalau beruntung bisa menciptakan bias warna-warni pelangi.
Persis seperti murid nakal,
Aku dihukum semesta.
Berdiri menahan sengat-sengat kecewa sambil disaksikan keramaian.
Meleleh bertetes-tetes dipayungi surya.
"Sudah sewajarnya" kata hati.
"Toh kamu memang keterlaluan.
Sengaja lalai berkali-kali menentang Tuhan.
Sudah barang tentu kamu diganjar".
"Menurutku, lepas saja partner in crime-mu itu.
Sudah kubilang sejak awal, si hawa nafsu hanya bisa merugikan.
Kamu sih ngeyel, sudah tau bisnis rugi, tapi malah dilanjutkan.
Sudah tau hanya dapat kepedihan, masih juga dipertahankan.
Sudah kubilang dari dulu-dulu, kau tak mau paham".
"Setelah ini, ayo berlari lebih cepat menuju Tuhan.
Saking cepatnya sampai kau kesulitan dengar rayuan.
Saking cepatnya, hawa nafsu pun tak bisa menyusul untuk menghadang".
Aku tak tau,
hati yang merapuh,
ataukah nasib yang bertambah taringnya.
Apapun itu tak penting.
Toh mereka berpulang pada satu muara. Pada jarak yang kubentang terlalu jauh dari-Nya.
Hari ini,
Panjangnya jalan melelahkan raga,
Menyulut sisa-sisa kewarasan jiwa,
Dan menghabiskan banyak tisu, Terutama untuk ingus yang tak kunjung reda sejak beberapa malam lalu.
Komentar
Posting Komentar