tengah-tengah yang membuat terengah
Lalu timbul, lalu menepi.
Lalu hilang, lalu datang kembali.
Lalu terlontar, lalu tertelan.
Lalu berlari, lalu bersandar.
Begitu dunia berjalan,
Terasing dari makna konstan,
Terurai dari stabil namun lekat dengan
goncangan.
Padahal gravitasi melimpah,
Buah apel berguliran dari bukit di Malang.
Namun bermilyar jiwa terapung-apung di atas
permukaan harapan dan usaha.
Seperti berdiri di atas papan yang ditumpu
satu bola.
Mengusahakan keseimbangan hingga jatuh
bergulingan.
Tergores hingga berdarah dan patah-patah.
Otot penat dan kram, tegang tak berkesudahan.
Semua berteriak dalam diam,
Simfoni yang terdengar meski tak diucapkan,
Kapan ini usai? Kapan bisa bersantai?
Komentar
Posting Komentar