An agony (late night thought)

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Seperti memelukmu setiap hari berulang-ulang kali. Seperti ciuman di pipi setiap pagi. Seperti memijat badanmu yang kelelahan setelah berpindah dari satu rapat ke rapat-rapat berikutnya. Seperti membalurkan minyak-minyak aromaterapi untuk mengurai lelah di punggungmu. Memasakkanmu semua sup yang kau suka. Sup ayam, sup ikan, sup daging, sup iga, dan lain sebagainya. Seperti menyiapkan sarapanmu dan mengantarkan makan siangmu. Seperti mendengarkan keluh kesahmu sambil menikmati makan malam yang baru saja kusajikan. Mencucikan bajumu. Membersihkan kamarmu. Menemanimu berbelanja. Membawakan barang-barangmu. Membantumu saat kau sakit. Menopang kepalamu saat kau terlalu lelah untuk sekedar duduk tegak di perjalanan.

Aku ingin ada di sisimu selalu, Umi. Menjadi tumpuanmu. Mencintaimu dengan sederhana adalah impianku. Sesederhana mauku dan bisaku. 
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Tanpa kuliah yang tak kusuka. Tanpa ujian yang perlu dipersiapkan dengan sempurna. Tanpa berlelah-lelah menjadi produktif dan bermanfaat seluruh waktunya. Tanpa menahan diri dari hal-hal yang menggoda hati. Tanpa beban ini semua. Tanpa kesana kemari, berpindah kota bahkan negara, mencari hikmah mukmin yang hilang. Tanpa bertemu dengan banyak orang untuk berbagi sedikit ilmu yang Allah titipkan. Tanpa tanggungjawab apapun. Sesederhana mauku dan bisaku. 

Aku sungguh-sungguh ingin mencintaimu dengan sederhana. Seperti yang mauku suka. Andaikata memang ada yang sederhana dari cinta. 

Andaikata cinta bisa dibuat sederhana. Aku akan jadi yang pertama. Tapi sejak kapan? Sejak kapan cinta menyendiri dari ramainya rumit. Justru dialah pusat dari keramaian yang ingin dihindari. 
Cinta membuatku ingin memastikanmu bahagia, Umi. Memastikan cintamu yang rumit kepadaku itu terbalas sepadan kusutnya. Sepadan sakit dan pengorbanannya. Memastikanmu sehat kini dan nanti. Memastikanmu jadi yang paling bangga di akhirat kelak saat Pemerintah Tertinggi bertanya tentang seorang hamba yang pernah menginap dalam relungmu. Itu semua tak pernah bisa disebut sederhana. Memastikanmu tersenyum lega saat melihatku, bukannya biasa-biasa saja sebagaimana aku mengagumimu dengan seutuhnya. Menjadi beban yang sangat dalam setiap melihat linangan kecewa di netramu. Pusing kepalamu karenaku. Kerut-kerut dahimu sebab ulahku. 

Pagi ke malam, malam ke pagi, aku melihatmu menerabas batas-batas dirimu. Lantas bagaimana aku ingin mencintaimu dengan sederhana? 

Apa itu mencintai dengan sederhana? Aku akan ugal-ugalan mencintaimu. 

Beri aku waktu, semoga aku bisa membayar tumpukan kecewamu padaku. Semoga, ya Allah, ilhami aku untuk mampu menerobos batas-batas nafsuku, membahagiakan makhluk yang Kau wajibkan cintaku padanya setelah Rasul-Mu. 

Jika tidak bisa di dunia, semoga nanti aku bisa mencintaimu di surga dengan sederhana. Sejak dunia memang tempat untuk berusaha. Sungguh, merealisasikan cinta sebagai kata kerja bukan main sulitnya. Tapi semoga Engkau ridho, semoga kau juga. 

Ya Allah beri aku waktu, beri aku nikmat mendengarkan validasi syukur dan senang dari bibirnya atas cinta yang kuusahakan untuknya. 

Komentar