I'tikaf 1445


Ramadhan kali ini, selain menjadi puasa pertamaku bersama keluarga juga adalah itikaf yang -mungkin- pertama sejak 2017 keberangkatanku ke Mesir.

Semenjak pertama kali sampai di masjid Nurul Iman ini, aku lantunkan tahmid dengan lirih berkali-kali. Karena jujur saja, awalnya aku takut tidak bisa ikut itikaf lagi tahun ini. Tidak bisa merasakan suasana itikaf yang seru, yang sudah aku rindukan dari tahun-tahun lalu. Apalagi sejak hari kesebelas Ramadhan, di rumah kami ada tamu yang mesti diurus dan dilayani. Sampai 10 hari terakhir datang, tamunya belum juga pamit pulang. Umi menawarkan kami berangkat duluan. Tapi, apa aku tega membiarkan Umi mengurus kebutuhan tamu sendirian? Akhirnya aku putuskan untuk tetap di rumah. 


Hari demi hari berlalu. Alhamdulillah, hari ke-24 kami pun bisa berangkat itikaf sehabis tamu kami pulang. Awalnya kami mau menggunakan layanan pesan mobil online. Tapi apa daya, rumahku yang di antara hutan bambu dan jalan berliku-liku tidak bisa mendatangkan satu pun supir. Akhirnya Umi memutuskan untuk menyetir sendiri meskipun jarak tempuh yang jauh juga medan asing yang belum Umi kuasai. 

Aku duduk di depan menjadi navigator bu supir yang sedang deg-degan. "1 km lagi kiri ya Mi." Baru 100 meter berjalan, "Kak, ini kemana kak? Kiri apa kanan?," tanya Umi dengan panik. "Masih lama Mii," jawabku dengan menahan greget. Lantas itu terjadi berulang-ulang. Kadang juga aku pun terbawa panik. "Kak! Ini kemana kak!" "Kiri Mi! Eh, kanan deng, KANAN!" 

Apapun itu, alhamdulillah kami sampai juga di parkiran mall Blok M Square yang bertingkat-tingkat dan cukup membuat grogi. Hah? Kok di mall? Iyaa, bagi yang belum tahu, masjid tempat kita akan ber-itikaf berada di lantai teratas gedung mall ini. Masjidnya luas. Bahkan ada tempat untuk latihan manasik umroh dengan imitasi bangunan Ka'bah.


Aku jadi kembali teringat kenangan-kenangan itikaf tahun-tahun lalu. Sejauh yang bisa kuingat, itikaf pertamaku adalah saat aku berumur 7 tahun di masjid Al-Hikmah, Mampang Prapatan pada Ramadhan 2012. Juz-juz terakhir dari hafalanku, banyak kuselesaikan di masjid itu bersama Umi. Setelah tahun itu sampai 2017 kemarin, itikafku tidak terputus alhamdulillah. 2013, 2014, 2015, kami (umi, aku, sekeluarga) konsisten beri'tikaf di masjid Adz-Dzikra, Sentul. Sementara tahun 2016 kami mencoba di masjid lain yang juga masih di dekat itu, masjid Andalusia. 10 hari bersama santri-santri Utrujah juga.

Banyak pengalaman yang membuat kami terus ketagihan beritikaf. Jajan malam, salah satunya, haha. Berhubung memang kebanyakan kami masih bocil-bocil, jajanan yang dijual di sekitar masjid menjadi daya tarik tersendiri. Ada juga pengalaman seperti dimarahi nenek-nenek tanpa sebab berarti. Mencuci baju dan mencari tempat strategis namun cukup tersembunyi untuk menjemur. Berbuka puasa sambil mengagumi kakak-kakak panitia yang keren-keren. Ketiduran saat sujud di sholat tahajjud, lantas terbangun di area jalan saat matahari sudah terang dan banyak yang berlalu-lalang. Dan banyak cerita-cerita lainnya.

Hingga pada akhirnya ketika tahun 2017 awal aku berangkat ke Mesir untuk menjalani program Qur'an. Jujur saja, salah satu homesick terbesar adalah suasana itikaf yang tidak bisa kudapatkan. Aku baru menyadari, bahwa adalah sebuah kesyukuran untuk tinggal di tempat di mana masjid-masjid besar banyak menyediakan tempatnya untuk digunakan beritikaf dengan sistem kebersihan, tempat tidur, juga makanan buka dan sahur yang rapi. Inilah salah satu kelebihan Indonesia yang baru aku sadari. 


Mungkin kalian bertanya-tanya, memang kalau di Mesir bagaimana kak? Tanpa mengurangi kebaikan Mesir dan segala kelebihannya, memang yang aku rasakan saat itu dan sampai sekarang, di Mesir masih sangat-sangat susah untuk mencari masjid yang menerima peserta itikaf, apalagi perempuan. Apalagi 10 hari berturut-turut. Kalaupun ada, mereka belum punya sistem ataupun program untuk itu, jadi semua serba mandiri dan juga semrawut. 

Tahun kemarin aku pernah mencoba. Tentu itu menjadi pengalaman yang juga mengesankan bagiku. Bagaimana tidak? Masjid-masjid di Mesir memiliki kelebihan cerita dan sejarah megah. Tapi sayangnya aku hanya bisa beritikaf beberapa hari saja. Karena kurangnya fasilitas yang ada membuatku harus pulang ke rumah yang berjarak lumayan jauh. 

Karena itu sebenarnya aku sedikit bingung, apakah tahun ini bisa disebut sebagai itikaf pertama padahal tahun kemarin aku sudah sekitar 3 hari berdiam diri di masjid Amru bin 'Ash dengan niat itikaf. Ah, anggap saja ini tahun ini yang pertama. Karena toh ini perihal rasa rindu, yang belum pernah tuntas kecuali saat aku menuntaskannya hari ini. -hahah, ngeles banget ya-.

Komentar