Naskah Cerita

Kau berhasil menangkap aku yang mengendap-endap kabur lewat pintu belakang rumahmu.

Aku yang selalu lantang dan terang. Berpola sederhana dan jelas dibaca. Menjadi malu-malu, ragu, bersembunyi, rumit, dan takut.

Ak-aku.. terbiasa terjebak di antara labirin-labirinku. Primitif yang badung, dan intelektualitas yang belum lagi mampu berlari jauh. 

Meski prosesnya masih saja sulit dan mengambil banyak waktu -seberapa sering pun aku melewatinya-, aku yakin akan berhasil bebas untuk menghirup nafas.

Tapi, bagaimana jika ada hal lain yang menjebakku?

Bagaimana jika ada mawar indah yang menggodaku untuk terduduk lama di pinggiran jalan, termenung, terkagum-kagum? 

Hal seindah itu— atau haruskah kukatakan— seindah dirimu, tidak akan hilang dengan jampi-jampi lirihku.

Aku benci kenyataan bahwa kaitan kelingkingmu, lebih dari cukup untuk membuat langkah kilometerku enggan menambah jarak untuk definisi waktu yang masih saja diperdebatkan dalam rapat dewan.


......

"Bagaimana menurutmu?"

"Begini Tuan, kau jangan hanya bisa tersenyum setelah banyak narasi yang kubaca"

"Aku butuh sebuah keputusan—"

"Bukan apa-apa. Sungguh"

"Aku tidak peduli"

"Hanya— bagaimana aku akan menutup kisah panjang ini"

"Pembaca akan marah jika kubiarkan dia menggantung"

"Sebentar, ada sepuluh persen royalti jika Tuan bersedia memberikan akhir yang menyenangkan"

"Untukku? Oh, tentu bukan"

"Ini untuk pembaca"

"Ya, untuk pembaca-pembaca setiaku"

"Dua belas persen?"

"Baik, dua belas persen royalti untukmu kalau begitu"

"Terima kasih banyak, Tuan"

Komentar