Allahku.
Tempat segala keluhan dan aduan tertumpahkan.
Aku bersikeras untuk terus kembali kepadaMu.
Tak peduli seberapa malunya nuraniku karena selalu datang berbalur lumpur.
Tak peduli ada banyak sesamaku yang lebih dekat denganMu.
Bagiku aku tetap milikMu dan hanya kepadaMu aku bersandar dan meminta.
Maha Suci Zat-Mu, Allahku.
Bahkan dalam sibukMu aku tetap dipersilahkan berdiri meminta tanpa batas apalagi perantara. Absolutely prioritas tanpa peduli bahwa aku yang bukan siapa-siapa ini sering membuatMu mengantri lama.
Allah. Allah.
Hatiku kian berat. Kian pekat oleh maksiat. Tersendat-sendat nafasnya membawa hal yang Kau titipkan.
Rasa yang hari lalu Engkau titipkan dalam hati ya Allah, telah bertumbuh subur dan hampir membuat tanahnya longsor. Tanah yang sebenarnya adalah imanku ini memang masih terlalu gembur ya Allah. Tanah gembur yang banyak disusupi aliran-aliran kemunafikan. Becek. Lembek. Tak bisa mencengkram akar pohon sebegini besar.
Aku rasa, apakah tidak sebaiknya jika pohon besar ini Kau cabut saja ya Allah? Jujur sekali, aku selalu suka apapun yang Kau beri, termasuk pohon ini. Dia teduh, berbuah manis, angin datang sepoi-sepoi saat aku duduk di dahannya.
Tapi, aku mengkhawatirkan pijakannya ya Allah. Aku mengkhawatirkan imanku yang masih sebegitu lemahnya. Aku takut terperosok bersama pohon besar ini ke jurang kegelapan dan tak lagi mampu keluar dengan baik-baik saja.
Atau, jika rasa ini sebegitu agungnya menurut rencana dan ketetapanMu ya Allah, biar aku mintakan padaMu segala alat dan bahan baku untukku memperkuat pondasinya. Bahan baku, alat, dan kekuatan untuk mengerjakannya ya Allah. Apakah begitu yang Kau mau dariku? Agar aku belajar kuat? Bertahan dan tak lagi kabur-kaburan menghindar?
Jika begitu memang kehendakMu, baiklah.
Dengan seluruh kelemahanku sebagai hamba, aku terima segala ketetapanMu dengan uluran kekuatan Tuhanku. Ya Allah, bantu aku menguatkan imanku, selalu, selalu, selalu.
.لا حول ولا قوة إلا بالله، أنت نعم المولى ونعم النصير
Komentar
Posting Komentar