Mataku
Lihat mataku,
Kuyup oleh sinar matahari,
Namun tetap, gelap.
Lihat laut,
Bertatap matahari sepanjang hari,
Namun tetap, ombak memilih gulita dalam dasar.
Sekali lagi, lihat mataku.
Tersimpan dalam kantongnya, tetes-tetes gelisah yang memberatkan langkah.
Oh maaf, kau sepertinya menggigil.
Pakailah jaketmu, kegelapan telah mengundang sejumlah dingin untuk bersantai di tepi tebing kebingungan. Kalau mau, kau bisa bergabung. Sensasinya akan sangat spesial.
Itu yang paling favorit saat ini, guncangan-guncangan dan sedikit rasa mual.
Tunggu, sebelum itu, biar kutunjukkan.
Ini adalah pusaran penyesalan,
Aku sudah berkali-kali tenggelam karena terpeleset dosa anak Adam.
Ini, bisa dibilang, titik rapuhku yang paling sepuh.
Nah, kalau begitu,
Perjalanan kita cukup sampai di sini.
Kau bebas menentukan, untuk tinggal atau meninggalkan.
Yang mana saja tidak masalah.
Aku terbiasa menjamu tamu dan mengantar mereka pergi.
Kabari saja kalau sudah pasti.
*A little bit gaje, but, ok lah..
Komentar
Posting Komentar