Barter
![]() |
| https://pin.it/3yc8AfP |
Saya dulu pernah merenungkan janji ini dan mencoba memahaminya dengan sedikit logika yang Allah berikan pada saya. Perenungan yang membangkitkan semangat saya saat itu untuk kembali memutqinkan Al-Qur'an setalah lima tahun usaha yang tak membuahkan -jika dilihat dari kacamata manusia-. Saya akan berusaha menjabarkan dengan baik pemahaman yang saya dapatkan dari perenungan saat itu demi agar membantu teman-teman di luar sana yang menemukan masalah yang sama.
Ketika Allah menjanjikan kemudahan dalam Al-Qur'an namun yang kita rasa malah sebaliknya. Bukan janji Allah yang salah, tapi usaha kita untuk membuktikan kemudahan itu yang kurang. Bukan Allah yang ngga jujur, tapi usaha kita yang bohong dan main-main.
Logika ini saya ambil dari salah satu hadits Rasul -shallallahu 'alaihi wasallam-. Disebutkan bahwa seorang laki-laki telah mendatangi Rasulullah, dia berkata: "sesungguhnya perut saudaraku sedang muntah-muntah". Rasulullah berkata: "minumkan dia madu". Lalu laki-laki itu kembali datang dan berkata: "sudah kuminumkan dia madu namun muntahnya malah semakin banyak". Rasulullah berkata: "minumkan dia madu". Kejadian ini terulang hingga tiga kali. Pada kali keempat, Rasulullah berkata: "minumkan dia madu". Maka laki-laki ini berkata "sungguh aku telah meminumkannya madu, namun muntahnya malah semakin banyak". Maka Rasulullah berkata: "Maha Benar Allah, sementara perut saudaramu telah berbohong". Maka diminumkanlah kembali saudara laki-laki itu dengan madu, maka sembuhlah dia. (Lihat Shohih Muslim: 2217. Shohih Bukhori: 5684).
Setiap kejadian dalam hidup memiliki banyak POV (point of view). Kita harus pintar-pintar memilih POV dalam melihat, menulis, dan menanggapi kejadian-kejadian yang darinya lah kisah hidup kita terbentuk. Maka seharusnya POV yang kita ambil ketika menemukan sebuah masalah dan merasa sudah berjuang, adalah POV orang yang selalu merasa usahanya masih jauh dari cukup dan sempurna.
Semerasa-merasanya kita tentang usaha kita, kalau belum Allah hadirkan yang kita minta, artinya bagi Allah usaha ini belum sepadan dengan yang diminta. Masih remeh, masih ecek-ecek. Semakin besar yang kita bayar, semakin berharga yang akan kita dapatkan. Ini adalah konsep barter yang sederhana. Sebuah barter yang timbangannya hanya bisa diukur oleh Allah semata.
Sesuatu yang menurut kita sepele, bagi Allah bisa jadi sangatlah berat timbangannya. Maka ketika melihat orang lain berhasil mendapatkan hal yang sama dengan mudah, bisa jadi usahanya di sisi Allah sudahlah cukup untuk menebus nikmat yang dia minta. Atau ketika kita meminta sesuatu yang bagi kita remeh namun tak kunjung diberi, bisa jadi bagi Allah itu besar sekali harganya. Ini adalah hal ghoib yang ukurannya bukan di tangan kita. Maka satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah selalu ber-husnudzon tenang Allah diiringi oleh harapan positif kepada-Nya.
Di akhir perenungan ini saya menyimpulkan bahwa ayat ini adalah sebuah tantangan pembuktian. Umpan yang Allah lemparkan kepada para hambaNya. Adakah dari kita yang mau membuktikan janjiNya. Mau menjadi bagian dari tanda-tanda kekuasaanNya. Karena itulah Allah menutup janjiNya pada Al-Qomar dengan sebuah tantangan. KataNya, ((Apakah ada yang mau membacanya, mempelajarinya, mendalaminya?)).
Jadi, apakah kamu mau menjawab tantangan ini? Membuktikan secara langsung kebenaran janji Allah. Well, karena ini tantangan, sudah pasti ada balasan. Free pass surga bagi 40 anggota keluargamu, tentu setelah dirimu juga. Sekarang tentukan, menjawab tantangan serta mendapatkan hadiahnya, atau menyerah dan kehilangan kesempatannya.
Wallahu a'lam bisshowaab..

MasyaAllah
BalasHapus