Kering hatiku di peras rindu
Menggelepar diatas tandusnya saharamu
Kemana pergimu, oaseku?
Sementara bungaku lemah melayu
Reot dengan warna cokelat susu
Kapan kau jatuhkan hatimu padaku, hujanku?
Aku menunggu dengan badan yang menggigil pilu
Dalam kegelapan yang meremukkan tulang-tulangku
Aku menunggu, kapan kah kiranya kau sibak awan gelap dariku?
Kapan kah sinarmu menyeruak dalam kehidupanku?
Menyergap hening dan dinginku
Menopang sendi-sendi yang meluruh bersama sendu
Kapan kah tiba waktu bagimu untuk turun menyapaku, matahariku?
Lalu kau tahu, bahwa kau seluruh jiwaku, hidupku, dan kekuatanku.
Tolong, mengalah lah dari keras kepala itu
Sebelum aku yang akhirnya menyerah dengan hidupku, tanpamu
Menggelepar diatas tandusnya saharamu
Kemana pergimu, oaseku?
Sementara bungaku lemah melayu
Reot dengan warna cokelat susu
Kapan kau jatuhkan hatimu padaku, hujanku?
Aku menunggu dengan badan yang menggigil pilu
Dalam kegelapan yang meremukkan tulang-tulangku
Aku menunggu, kapan kah kiranya kau sibak awan gelap dariku?
Kapan kah sinarmu menyeruak dalam kehidupanku?
Menyergap hening dan dinginku
Menopang sendi-sendi yang meluruh bersama sendu
Kapan kah tiba waktu bagimu untuk turun menyapaku, matahariku?
Lalu kau tahu, bahwa kau seluruh jiwaku, hidupku, dan kekuatanku.
Tolong, mengalah lah dari keras kepala itu
Sebelum aku yang akhirnya menyerah dengan hidupku, tanpamu
Komentar
Posting Komentar