Tentang Palestina: Sakit Hati Seorang Muslim Abangan
Ketika aku melihat video pelepasan tawanan-tawanan Hamas, aku lihat mereka begitu sehat. Kulit mereka cerah. Wajah mereka damai.
Kulihat satu anak mengenakan topi bergambar Spiderman yang terlihat bagus dan bersih. Sangat tenang dan damai dalam rangkulan salah satu anggota Brigade Izzuddin Al-Qassam. Dia bahkan digendong oleh salah satu pejuang ketika hendak menaiki mobil ambulans yang terlalu tinggi. Selang sesaat, datang pejuang lain sambil sedikit berlari menggendong salah satu tawanan lansia.
Tak lama, mobil ambulans yang membawa mereka pergi. Penumpang di dalam melambaikan tangan perpisahan kepada masyarakat Gaza yang berkerumun dengan damai di dekat sana. Beberapa orang juga balas melambaikan tangannya.
Allah. Beginilah keadaan tawanan musuh-musuh kami dalam perlindungan pejuang kami. Mereka sehat, bersih, tenang tanpa ada gurat ketakutan.
Allah. Aku teringat bagaimana keadaan saudara-saudaraku dalam cengkraman tentara musuh kita.
Allah. Saudara-saudaraku penuh debu dan rasa sakit. Hati mereka senantiasa bergemuruh dalam rasa takut, marah, sedih, dan terhina. Darah mengaliri wajah-wajah mereka, tak mengenal kecil ataupun dewasa, wanita ataupun pria. Perut mereka tak pernah kenyang. Tenggorokan mereka senantiasa kering.
Allah. Betapa berat syahadat yang kuakui lima kali sehari. Betapa berat menjadi tetap sesuai syariat, menjadi tetap sebagai hamba Tuhan yang Maha Rahmat. Betapa berat menyayangi saat diri sendiri disakiti membabi.
Tiada pernah kudengar sumpah serapah dari mulut saudara-saudaraku di Gaza. Melainkan apapun yang membuat Allah ridho. Tiada pernah kudengar balas dendam mereka untuk masyarakat sipil Israel, dari anak kecil juga lansia. Meski aku tak tahu apakah para wanita, lansia, bahkan anak-anak di sana terkategori sebagai sipil ketika semuanya pandai mengokang senjata.
Sementara itu, hatiku teriris-iris saat mendengar lagu-lagu Zionis penuh lirik kebencian terhadap saudara-saudaraku di Gaza. Dengan sungguh-sungguh mereka berteriak dengan yel-yelnya. Menyumpah serapahi anak-anak Gaza di depan dunia. Katanya, biar mati semua anak Gaza. Biar hangus semua manusia di sana. Luluh lantakkan semua kehidupan yang ada. Bersorak-sorai mereka sambil memutar video terbunuhnya anak-anak Gaza. Bertepuk tangan saat angka kematian terus melonjak setiap harinya.
Ya Allah. Hatiku remuk. Saat melihat para pejuang menggendong balita-balita Israel yang tertawan. Diberikannya anak-anak itu minum saat anak-anak mereka sendiri bahkan tak lagi pernah melihat air bersih. Didorongnya troli-troli bayi supaya tetap tenang dan tak menjerit menangis.
Begitu juga saat kesaksian demi kesaksian mengalir dari tawanan yang sudah dibebaskan tanpa syarat apapun. Mereka bilang bahwa luka mereka dirawat. Yang sakit pun diberi obat.
Allah. Aku yang lemah imannya ini, hampir-hampir hangus oleh kemarahan. Saudara-saudaraku bahkan dioperasi tanpa setetes pun anastesi. Para ibu menjalani operasi caesar dengan kesakitan tak tertahankan. Seorang anak laki-laki syahid karena tak kuat menahan sakit di tengah-tengah operasi.
Ya Allah, sungguh tinggi level iman para pejuang di jalanMu. Mereka yang dibunuhi tanpa belas kasihan, tapi tetap mampu mengasihi atas nama Tuhan.
Allah. Naikkan level imanku dan iman kami semua. Jangan biarkan kami terkubur oleh beratnya kedzaliman dari sesama manusia. Biarkan kami tetap berdiri tegak di hadapanMu, sebagai hamba penuh kasih dari Tuhan Yang Maha Pengasih.
Allah. Penuh syukur kepadaMu telah Kau jaga para pejuang kami. Mendidik mereka dengan didikanMu. Kami titipkan semua saudara kami ya Allah dalam sempurnanya perlindunganMu. Iringi setiap operasi jihad mereka dengan kemenangan, keberkahan, dan perlindungan.
Konteks:

Komentar
Posting Komentar