Rumah Otomotif
![]() |
| Maydan Ramsis dan segala keruwetannya |
Suasana dan tempat paling familiar adalah jalan raya dan kemacetannya.
Di tengah-tengah keasingan yang kata orang berbahaya, aku merasa aman.
Segala hal bisa terjadi di antara klakson mobil dan asap knalpot. Di antara lintang-lintang jalan layang serta patok-patok rambu. Aku hanya melihat baik-baiknya.
Pemakluman supir angkot padaku yang kehabisan uang ongkos tanpa tersadar. 20 LE dari seorang bapak-bapak yang ingin memberikanku tambahan bekal.
Mas-mas di stasiun kereta bawah tanah yang rela berputar arah membantu seorang ibu membawa beban berat di atas titian tangga. Anak kecil yang berpegangan pada tanganku sebab takut menaiki tangga listrik.
Kepekaan sesama penyebrang jalan, membarengi tanpa diminta. Berdiriku dari kursi untuk seorang ibu bertubuh tambun, lalu berdirinya pemuda untukku duduk di kursinya.
Kerelaan mudi-mudi menggeser duduknya agar dua kursi cukup untuk bertiga. Kaki-kaki yang meski terinjak-injak oleh sesama, tetap lah senyum yang tersungging ceria.
![]() |
| kernet bis sedang mencari penumpang dari Ramsis menuju Madinat Nasr |
Bisingnya kendaraan, ditingkahi teriakan kernet, dijahili perkelahian jalanan, keluhan pedestrian, celoteh anak-anak sebaya, rengekan balita, menjadi sebuah brown noise yang membantuku berkonsentrasi dengan sangat ampuh.
Kutemukan produktifitasku di tempat-tempat berdebu, panas, berpeluh, kusam, sesak. Aku mengaji puluhan halaman yang tak mampu kubaca dengan kenyamanan kasur di kamar. Aku menulis ratusan kata yang tak mampu kuselesaikan di bawah sepoi-sepoi kipas rumah.
Tumpah ruah manusia, mesin, hewan, dan segala macam makhluk hidup dan mati, di situlah aku tumbuh dalam ketidaknyamanan yang nyaman.
![]() |
| tampak belakang bis angkutan umum dengan tulisan "bismillah, masya Allah, la quwwata illa billah" |
Sejak perkenalan pertamaku dengan rumah para otomotif ini, waktu itu sepuluh tahun umurku hingga sembilan tahun kemudian. Baru kusadari. Aku telah begitu terpaut dengan jalanan.
Entahlah, kenapa aku merasa nyaman. Mungkin karena di jalan, sisi asli manusia dibuka. Karakter yang terpendam tanpa malu-malu muncul sebab keterasingan, kelelahan, ketidak nyamanan. Maka transaksi apapun itu, menjadi transparan. Aku tidak perlu lelah menebak atau menyusun strategi.
Pantaslah nasehat itu termasyhur begitunya. "Jika ingin mengenal saudara, ajaklah dia pergi dalam perjalanan." Atau dalam pepatah Arab tersebut, "As-safaru miizaanul qoum." Perjalanan adalah alat ukur seseorang. Karena di jalan, sungguh kau akan mengenal manusia. Baik buruknya muncul dengan begitu jujur dan spontan.
Aku suka jalanan, meski kadang sesampainya aku di rumah, baru lah semua lelah terasa di sekujur badan.



Komentar
Posting Komentar