Rembulan Malam Ini Sedang Tak Lapar


Malam di kotaku.

Lalu pada demam dan pilek lah kusandarkan lelahku. Pada pusing juga radang, waktu akhirnya bisa terhenti sebentar. 

Kami sama-sama terduduk kelelahan di pintu malam, bersandar pada daunnya sambil memandangi cemarut pikiran.

Kami pikir, tak lama lagi kesadaran akan dilahap rembulan. Tapi nyatanya, menit-menit berlalu dan kami masih saling bertatapan. 

Masih malam yang sama. Hanya dari sisi balkon yang berbeda.

Sebentar kemudian, seonggok pening dan sumbatan hidung datang meminta dipersilahkan. Kami bisa apa selain berucap, "iya, duduk saja, kami juga sedang rehat sejenak."





Malam belum menutup pintu, kami pun masih bercengkrama panjang dan semakin seru. Tapi aku pikir, mungkin malam ini rembulan sedang tak lapar. 


Kutepuk pundak karibku lalu berbisik, "kita bisa coba lagi besok, rembulan pasti akan lapar untuk melahap kesadaran kita." Sebelum beranjak, sempat ku-aminkan gumaman lirihnya yang terdengar, "Tuhan, kami hanya ingin tidur dengan tenang."

Komentar