Jiwa Tanpa Asa
Rusak oleh badai emosi.
Retak sebab kering telaga imani.
Sungguh.
Sampai kapan kerapuhan ini akan terjun bebas terabaikan untuk kemudian hilang tak berbekas dalam kedalaman panjang.
Kamu menolak seluruh obat dan memilih menyakiti diri dalam-dalam.
Kepuasaan seperti apa yang sedang dicari sebenarnya.
Mengapa sampai harus korbankan akal serta jiwa bersamaan.
Rakus. Tamak.
Katakan.
Sebahagia apa kamu melihat nyalangnya mata.
Tak cukup air dari sobekan kantungmu sendiri, kau peras netra polos terdekatmu hingga terbulir air-air mata.
Kembali lah sayang.
Jiwa yang tenang hanya ada pada sisi Pemiliknya.
Kembali lah.
Hanya satu rumahmu.
Pada peluk-Nya, kembali lah.
Komentar
Posting Komentar