Telur Untuk Bakso
Belum lama ini kelompok belajar saya memutuskan untuk membuat bakso bersama-sama. Sambil menyendoki adonan bakso, saya bertanya kepada kakak yang mencampur adonan, "Kak, ini adonannya ngga mutamasik (menyatu) kenapa?."
Kakak itu memang yang berpengalaman membuat bakso, jadi dia yang memimpin masak-masak kali ini. "Kayaknya kurang telur deh," katanya dengan tangan yang masih sibuk menyendoki adonan dan mencemplungkannya kedalam panci di atas kompor. Lantas saya tanggapi sekedarnya dengan anggukan. Setelahnya saya tenggelam dalam pikiran sendiri.
Saya pikir, mungkin umat kita saat ini sedang butuh banyak telur. Telur yang bisa merekatkan daging, tepung dan garam menjadi sebuah satu kesatuan yang nikmat disantap. Menjadi harmoni pengisi perut-perut lapar. Memenuhi kebutuhan manusia yang menjadi asas bahagia. Juga disukai banyak manusia. Setidaknya itulah alasan kenapa ada 2,5 juta penjual bakso di Indonesia.
Karena itu, mungkin kita butuh belajar dari bakso. Atau, kita butuh menjadi bakso untuk bisa memenuhi keroncong lumbung kebutuhan umat dan menjadi sebab bahagia banyak insan.
Terlepas dari daging yang hewani, tepung yang nabati dan garam yang bahari, mereka ternyata bisa bersatu menjadi sebuah cita rasa. Mereka bersatu dengan telur sebagai perekatnya. Sebuah kesatuan yang kita semua dambakan sejak lama dan kita usahakan dengan berbagai cara.
Tapi, siapa yang bersedia menjadi telurnya? Yang siap pecah untuk menggandeng berbagai lapis masyarakat. Diaduk-aduk dengan keras supaya bisa merekatkan semua lini tanpa terkecuali.
Saya seakan tersadar. Bahwa mungkin perpecahan ini sukar musnah disebabkan jumlah perbedaan yang jauh melampaui jumlah telur kita. Karena selain Indonesia yang tercipta meriah dengan berbagai warna, kita semua seperti berlomba-lomba menambahkan kedalamnya berbagai pewarna. Ya termasuk saya.
Karena itu saya berharap, semoga saya dan banyak lainnya bisa berhenti mencampuri warna-warni kita yang alami. Semoga saya dan banyak lainnya bisa menjadi telur untuk umat. Mau terjun dan berkorban untuk persatuan. Semoga dan semoga hingga jumlah telur semakin banyak untuk mencukupi hasrat-hasrat kesatuan. Lalu selanjutnya, semoga Allah dekatkan takdirnya. Sedekat-dekatnya hingga mampu terjangkau oleh umur-umur kita yang tak panjang. Menjadi sebuah kemanisan untuk menutup kefanaan umur dari Tuhan.
Ket: Saya mungkin terlambat memahami ini. Tapi saya senang hari itu saya bisa tersadarkan. Ternyata segala bentuk ukhuwah jika diniatkan untuk Allah bisa membawa bermacam kebaikan. Lewat semangkuk bakso, begitu indah Allah berikan saya pemahaman.

Komentar
Posting Komentar