Surat Milik Pancaroba
Untuk Yang Terkasih
Di Tempat
Hari-hari ini, hatiku sedang dalam masa-masa peralihan. Antara ingin menggenggam, namun waktu terus menggiring untuk merelakan. Menggelindingkan hati secepat mungkin di atas lapangan ego menuju gawang ridho. Layaknya langit, antara ingin hujan atau tetap gersang. Pancaroba, kata mereka. Sekeras apapun langit mencoba menahan isak, waktu akan tetap membuka pintu bendungan. Mengalir deras di antara lembah-lembah hati yang gersang tersebab harapan yang banyak ditebang. Semua orang tua membenci Pancaroba. Kata mereka, langit yang bersedih jika jatuh dalam peluk dan lekuk milik lembah gersang, hanya akan menghadirkan kesakitan. Karena itu mereka sering berpesan "jaga kesehatan ya nak, sedang pancaroba, musim sakit". Sebab itu, aku harap dengan ini kau jadi bisa paham, "jaga jarak ya, beri aku sedikit waktu, aku sedang pancaroba, dan aku tak mau menyakitimu".
Tertanda, Yang Mengasihimu
Di Tempat
surat ini ditemukan pada pojok tergelap sebuah gudang besar penuh lintasan-lintasan kekhawatiran, kabel-kabel kecemasan, dan besi-besi glondongan yang berkarat disebabkan oleh dosa yang mengendap
Komentar
Posting Komentar