Musim dingin segera berakhir, berpeluk sebentar dengan semi yang menyambut di pinggir kehangatan, kulihat bahagianya sudah mencair, matahari terbit sedikit lebih cepat lalu bertahan lebih lama.
Dia mulai menyayangimu dengan ceria, mulai memaafkanmu tanpa diminta, mulai mendoakan kebaikanmu tanpa harapan yang mengudara. Meski kau tak pernah menggubris benci atau sayangnya, meski sesal tak pernah kau rasa pahitnya, meski berharap menjadi baik untuknya saja kau tak rela.
Kau tau, ronanya mengembang semata-mata bukan karenamu, tapi tentang wanita yang menjaga lukanya, meringankan sakitnya tikamanmu pada jantungnya, menyemangatinya untuk bertahan lebih lama, wanita yang bahkan lupa bahwa seluruh dirinya telah pecah meluka, berderai darah dan air mata, terpincang-pincang menjaga harga diri yang sudah kau jegal berulang. Tapi lihatlah, dia bertahan, bahkan menguatkan, serta masih saja sempat menahanmu dari jatuh di lubang keledai.
Maka aku minta, atau jika perlu akan kutekukkan lututku di hadapanmu, tetaplah waras atau kau akan membayar mahal untuk satu lelap lalai yang membuat lena.
Komentar
Posting Komentar