Lidah

 *ini nulisnya main-main aja. meskipun ini garing, semoga kalian bisa sedikit berbahagia karena aku waktu nulis sambil ketawa.

   

   Saya selalu ingin bisa menulis agar bisa menceritakan dengan tepat hal-hal menarik di sekeliling saya, atau.. ide-ide dan pemikiran saya, bahkan mungkin juga beberapa rasa hati yang saya pikir layak untuk dipotret.

   Dalam berkomunikasi, seringkali saya lebih mengandalkan pena dari lidah. Bukan. Itu bukan karena saya penderita gagap atau semacamnya. Tapi karena entah bagaimana ceritanya saya selalu menemukan bahwa lidah saya yang kebetulan tidak bertulang ini bergerak dengan begitu spontan bahkan sebelum sang akal bisa menyadari apa-apa. Dia sering melontarkan kalimat-kalimat polos yang.. ya, harus saya akui bahwa memang itu yang ada di hati. Tapi coba pikirkan, polos dan tajam tanpa sapuan rona senyum atau pendar gliter keriangan, di antara riuh pesta pernikahan seorang teman. Kaku seperti kanebo kering. Memalukan! Salah-salah bisa dikira jomblo ngenes, padahal jomblo terhormat.

   Dan seperti yang sudah diduga, saya adalah satu-satunya yang harus bertanggung jawab atas perilaku tak sopan lagi memalukan yang berulang kali dilakukannya. Akan ada banyak drama. Seperti seseorang yang terluka dan merana, atau beberapa yang tak suka lalu murka. Oh, saya benci drama.

   Saya masih tidak paham mengapa saya yang bertanggung jawab. Para penegak hukum berpendapat bahwa lidah saya adalah benda mati, tidak ada yang bisa bertanggung jawab atasnya selain pemiliknya. Hah, tau apa mereka tentang lidah. Terlebih lidah yang sedang mendengkur di lorong mulut saya ini. Mereka tidak tahu bahwa lidah bukanlah benda mati, tapi lebih tepatnya adalah benda pura-pura mati.

   Maaf, sepertinya ada yang keberatan? Bisa saya jelaskan. Kalau memang dia adalah benda mati, kenapa dia bisa bergerak sendiri? Padahal otak saya tidak merasa memerintahkan apa-apa. Bagaimana? Oh, indra perasa otak saya rusak? Baik, kalau begitu akan segera saya perbaiki agar tidak terjadi lagi yang seperti ini.

Komentar